Hari keenam [NulisRandom2015]

Sayur Sup (ala Amu)

Bahan: wortel, kentang, kembang kol, daun bawang, daun seledri.

Bumbu: bawang merah, bawang putih, merica, garam, gula pasir, royco ayam.

Cara membuat:
1. Semua sayuran dipotong seperti dadu. Wortel dipotong biasa.
2. Semua bumbu ditumbuk sampai halus.
3. Bumbu ditumis sebentar.
4. Tambahkan air sampai panas, lalu masukkan wortel, kentang, kol. Tambahkan royco ayam secukupnya. Daun bawang dan seledri dimasukkan terakhir.
5. Masak sampai matang/hampir matang.

.

.

.

nb: le didapuk jadi anak konsumsi buat kemah akhir pekan. gimana-gimana, pokoknya nanti harus dihabiskan ini, hahahaha ‘^’9

150606/amu

Hari kelima [NulisRandom2015]

Anjing itu mengikutiku, batinku.

Aku baru saja dari lapangan, bermain layangan. Jaraknya jauh, melewati jalan setapak penuh tumbuhan rambat di antara pagar halaman orang, sungai sempit dan dangkal yang menuju air terjun danau, lalu jalan aspal gang menuju rumahku. Anjing itu berhenti mengikuti saat aku tiba di jalan beraspal itu.

Aku tahu ada tetanggaku yang memiliki anjing sejak dulu. Aku kan melewati rumahnya setiap berangkat ke sekolah pagi-pagi. Anjingnya besar berwarna coklat-hitam. Mulanya aku takut tapi waktu aku berkunjung ke rumah tetangga itu dengan ibuku suatu kali, ternyata dia tidak menggigit.

Itu dulu, sebelum pemiliknya pindah dan meninggalkan anjingnya tak terpiara begitu saja kemarin lusa.

Beberapa hari kemudian, aku pulang ke rumah dengan kaki berdarah-darah. Digigit anjing di sawah sehabis bermain layangan. Bukan anjing yang biasa mengikutiku, tapi anjing lain penjaga sawah. Aku tidak terlalu memikirkan itu karena lukaku jauh lebih menyakitkan. Aku berdiam di rumah berhari-hari karena tak bisa berlari.

Baru seminggu kemudian aku mendengar kabar. Semua anjing tak bertuan di perumahanku rupanya dibuang ke sungai.

.

.

.

150605/amu

Hari keempat [NulisRandom2015]

Menyerah itu mudah. Saking mudahnya sampai-sampai menakutkan.

Ketika apa yang dia mau telah berada di tangan, adakalanya dia bingung dan bertanya, “Lalu apa?”

Kemauan itu tidak serta-merta mati. Mungkin ia bersembunyi, terlupa, tertidur atau tertutupi. Dia pun tak tahu pasti.

Menilik kembali, pada masa silam, dia menemukan bahwa dirinya pantas berada di sini. Tak banyak yang menyaingi di hati. Setiap waktu tak dapat berhenti memikirkannya. Dia pikir dia akan mencintainya selamanya.

Ketika di satu titik dia mulai membencinya … masihkah ia pantas bersamanya?

Berusaha bangun.

Ia tak rela mati

tapi tak mau juga berdiri.

.

.

.

150604/amu

Hari ketiga [NulisRandom2015]

Lagi-lagi, hari yang melelahkan tetapi tak membosankan. Pegal di badan, nyeri di sepanjang lengan, namun tak banyak beban di pikiran. Ini berkah. Hari yang seperti ini jarang bisa didapatkan di mana pun sepanjang yang aku tahu. Mungkin aku tak akan banyak mengalaminya lagi setelah ini.

Matahari sudah berada di barat dan angin berembus kencang. Semua orang berkelompok merapat. Kemudian, tangan-tangan mulai bekerja, hingga waktu berlalu terbang. Aku belum terlalu mengenal dia, tetapi aku memang sudah sering memperhatikan banyak orang di tempat ini. Salah satunya dia.

Dia tak memiliki hawa keberadaan yang kuat. Biasa saja malah. Hal pertama yang menarik mataku padanya adalah betapa feminin dia terlihat. Aku sudah menduga adanya hal seperti ini sejak mula, namun melihat dirinya hanya menimbulkan persepsi yang salah pada otakku. Gerak-geriknya lembut dan berhati-hati, serta cenderung menjaga kesan.

Selain itu, dia selalu berada di tengah kumpulan para lelaki.

Dan yang aku herankan adalah, bagaimana teman-temannya memperlakukan dia dengan lembut dan di situ juga ada keakraban–yang terlihat sedikit menjaga jarak–juga. (Beberapa kali juga kulihat seseorang menggendongnya seperti pengantin, dan hal lainnya).

Dari situ, dimulailah kesalahan. Sekrup otakku berputar miring. Khayalanku mengambil alih penilaian dan

aku pikir

dia gay.

.

.

.

150603/amu

Hari kedua [NulisRandom2015]

Belum lama ini aku mengecek beberapa nama di facebook.

Bukan siapa-siapa … hanya teman–yang belum menerima permintaan teman dariku. Salah satunya: si rambut merah.

Dia tidak menyapaku sebagaimana biasanya belakangan ini.

Apa aku berbuat salah?

Maaf saja tetapi mataku otomatis tertarik pada mereka yang memiliki daya tarik estetis, atau “aesthetic appeal” seseorang menyebutnya. Mana bisa aku melewatkan gerak-gerikmu yang terlalu lembut begitu saja.

Aku tahu dia orang yang peka. Untuk kali ini, kurasa dia pikir dirinya terlalu percaya diri. Omong kosong.

Aku tidak menyukaimu, Bodoh.

Tetapi aku perlu meralat pemikiran ini dan itu semua salahmu–salahku sebagian, sebenarnya.

Ini semua bermula ketika kau membiarkanku menyentuh rambutmu.

.

.

.

150602/amu

Hari pertama [NulisRandom2015]

Hari yang panas dan melelahkan. Saat kuliah berakhir, matahari sudah berada di barat. Tak ada waktu tersisa untuk pulang dan beristirahat.

Waktu itu cerah dan angin berhembus kencang.

Waktu itu aku melihatnya datang.

Rambutnya merah, panjang, dan ikal, diterpa angin.

Pikiranku riuh, tanganku ingin menyentuh. Sebelum aku sempat mengubah pikiran, kakiku melangkah duluan. Satu demi satu semakin mendekat. Aku pun memanggil namanya hingga dia menyadari kehadiranku.
Itu terlontar begitu saja, disaksikan berpasang-pasang mata.

“Bolehkah aku memegang rambutmu?”

Secepat itu meluncur, secepat itu pula aku ingin bumi menelanku saja.

(Dan dia mengizinkanku menyentuhnya)

.

.

.

150601/amu

nb: formerly posted on fb.

(Dan dia mengizinkanku menyentuhnya)