Tentang penulis dan pembaca (curhat seorang pembaca)

Saya baru saja menemukan sebuah pengantar-buku yang bagus menurut saya. Di dalam sana, si penulis membahas tentang hubungan antara penyair, sajak dan penikmat tetapi di sini saya mengasosiasikannya dengan penulis dan pembaca.

Apabila sebuah pemancar yang baik menyiarkan simphony Beethoven yang paling indah dan pesawat penerimanya radio Philips yang paling baru makan akan sempurnalah siaran itu tertangkap. (Hutagalung:1988)

Hubungan antara tulisan/seni dan pembaca mirip dengan peristiwa tersebut. Tulisan punya syarat-syarat tertentu agar pembaca dapat menikmatinya. Sebaliknya, pembaca pun harus punya perbekalan untuk dapat memahami dan menikmati apa yang dipancarkan oleh suatu tulisan. Tulisan itu tentunya berasal dari diri si penulis.

Ada dua syarat sebuah tulisan dianggap baik. Ia harus memiliki unsur keindahan, juga memiliki manfaat untuk memahami kehidupan pada umumnya. Tulisan mempunyai nilai-niai universal yang tidak akan cepat hilang oleh berjalannya waktu, seiring dengan perkembangan tren dan zaman.

Menulis membutuhkan kepekaan serta keterbukaan pada hal-hal yang terjadi di kehidupan. Menghindari sikap masa bodoh dan ketidakmautahuan terhadap sekeliling, yaitu kehidupan dan alam. Terbuka artinya penulis punya kemauan untuk mengetahui apa yang tengah terjadi dan memahami makna dari kejadian tersebut. Orang yang tidak mau tahu tidak akan merenungkan apa makna, semisal, kuntum bunga yang mekar di pinggir jalan, atau awan-awan yang berarak, rumah-rumah megah. Tidak memikirkan apa yang ada di baliknya, perjuangan untuk mencapai dan mempertahankannya dalam hidup.

Saya termasuk yang masa bodoh. Terlalu sibuk menjalani kehidupan sehingga tidak pernah menyisihkan waktu untuk merenungkan hal-hal seperti di atas. Makanya saya senang dan berterima kasih pada mereka yang mau memikirkan semua itu, merenungkannya untuk orang lain, memberi makna pada apa yang tak sempat saya pikirkan. Mungkin itu sebabnya saya begitu senang membaca karena dalam tulisan itu, ada hal yang sama dengan hal di sekitar saya tapi tidak pernah saya pikirkan.

Haha, makanya saya cukup heran saat mendengar ada orang yang merasa tidak enak atau enggan membaca suatu tulisan yang kurang dari segi teknis. Entahlah. Mungkin sejak awal memang niat saya membaca bukan untuk mengkritik dan bla-bla-bla, tapi untuk menikmati. Entah sejak kapan, karena lingkungan penulis yang begini-begitu saya juga jadi terpengaruh dan ikut-ikutan juga. Saya senang sekali, rasanya gumpalan yang mengganjal di salah satu sudut hari menghilang begitu membaca pengantar buku ini. Saya menemukan tujuan awal saya kembali.

Bukan berarti mengkritik itu dilarang ya. Bukan. Kritik itu bagus untuk penulisnya karena ada pembaca yang mengapresiasi ceritanya sekaligus membantunya meningkatkan kemampuan, tapi itu tergantung. Apa penulisnya mau dikritik? Toh mereka yang terjun dalam dunia kepenulisan belum tentu ingin menjadi penulis. Ada yang menulis karena ingin mengungkapkan apa yang ada di benaknya, ada pula menulis karena ingin mengkritik sesuatu, atau ingin membagi hal yang baru saja direnungkannya pada orang lain.

Saya suka penulis yang menulis karena ingin membagi pengetahuan dan, utamanya, yang menulis untuk mengekspresikan diri. Karena di situ saya dapat melihat keaslian pemikiran seseorang. Masa bodoh kalau ceritanya dianggap klise dan murahan, itu lebih baik daripada tema berat yang tidak saya mengerti. Masa bodoh dengan tulisan yang berantakan, toh saya punya akal yang membantu saya untuk mengerti dan memahami, yang penting saya menemukan pemaknaan dan opini si penulis. Lebih baik dibanding penulis yang karena tidak memiliki sesuatu untuk disampaikan, akhirnya dia ‘meminjam’ ide orang lain agar dirinya bisa menulis. Kalau sudah begitu tujuan dia menulis patut dipertanyakan. Haha, mungkin gara-gara inilah saya senang sekali membaca cerita-cerita para penulis baru karena biasanya mereka jujur, walau tidak semuanya tapi rata-rata seperti itulah.

Lalu apa inti dari semua ocehan ini?

Haha, entahlah. Seperti yang sudah saya bilang di judul, ini curhatan saya saja yang cuma mau bilang bahwa saya setuju dengan apa yang dikemukakan pengantar buku tersebut dan bahwa saya lebih peduli dengan pesan-pesan dalam cerita ketimbang kalimat-kalimat yang kelewat berat dan persoalan yang jauh dari hidup saya.

Pada akhirnya, tulisan ada untuk dibaca. Kalau tulisan ada untuk diberi pujian atau makian atau apa pun sih, yah, mungkin itu bukan urusan pembaca/penikmat, itu urusan mereka yang kurang pekerjaan untuk diurus.

Apa ini artinya saya bakal jadi seorang avid silent reader?

Kedengarannya bagus sih…

Ah tapi untuk bisa menikmati yang saya mau, saya pun harus memberi sesuatu sebagai timbal balik.

Jadi kesimpulannya adalah…

saya tahu kamu tahu. mungkin

.

Bandung

140205

Amu

Advertisements

Have fun commenting.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s