Filosofi Jejaring Laba-laba

a/n: untuk writing competition mahasiswa baru di kampus. Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga. Nama dan tempat disamarkan. 
Karya ini mulanya cuma di-posting di Facebook demi persyaratan lomba, syukur-syukur mendapat penghargaan juga, jadi saya mau berbagi saja.

.

.

Dia melangkahkan kaki di sebuah bangunan besar bernama kampus.

Di saat itu pula hatinya bergetar.

Pantaskah aku di sini?

.

Tidak ada yang istimewa dari gadis muda yang belum lama menyabet gelar “dewasa” di umurnya yang kesekian. Dalam benaknya pun, bisa berada di tempat itu, di salah satu kampus terkemukan negerinya, adalah keajaiban. Katakanlah dia berlebihan, namun itu adanya.

Tidak banyak yang gadis muda itu lakukan untuk bisa mendapat kursi di sana. Mengenalnya hanya dari televisi. Memilihnya di halaman pendaftaran kuliah pun karena perbincangan sekilas tapi sarat arti dengan temannya yang juga punya rencana di tempat yang sama.

Dan di saat gadis muda itu mulai tenggelam di antara kicauan-kicauan negatif sekelilingnya, sebuah hal tak terduga mencuat. “Selamat Anda diterima di XXX…” dan berikutnya—

Oh…. Al… ham.. dulillah…,” gumamnya dengan lirih. Bahkan untuk merespon sebuah keputusan penting yang masih belum disadari pentingnya itu ia tak tahu. Bahkan ibu yang berada di sampingnya pun tak berkata apa-apa selain “Jangan lupa diprint dan disimpan” yang langsung dituruti tanpa pikir dua kali.

Anak kita diterima!” seru ibunya pada ayah gadis itu saat tiba di rumah.

Sejurus kebahagiaan menyelimuti, sejumlah pepatah hidup dari orang tua mengalir beberapa menit, sebuah keyakinan merangsek masuk. Namun sebuah pertanyaan mengancurkan semuanya.

Pantaskan aku untuk semua ini?

.

Mendapat kabar mengejutkan dari teman yang ingin dikiriminya beribu terima kasih karena sudah menunjukkannya jalan, ia dikagetkan lagi dengan kenyataan bahwa… temannya itu tak diterima.

Teman yang jauh di atasnya soal akademis berikut soal hubungan sosialnya.

Gadis itu tak tahu harus bagaimana.

Apa yang harus kulakukan?

.

Menginjakkan kaki di halaman kampus yang luas dan lengang dan berada di tengah kota yang padat itu, membuat pertanyaan itu bergema di relung otak. Dijelajahinya prestasi-prestasi dari penghuni tempat itu, dan gadis muda itu terdiam.

Ia teringat dirinya yang tak pernah menorehkan prestasi apa pun.

Mengobrol dengan teman seperjuangan dari sekolah menengah atas yang sama, ingin mencari sedikit pelepasan semua keluhan-keluhan, kicauan-kicauan itu yang datang malah.

.

Gadis muda itu seorang diri bertemu dengan calon teman seperjuangan, calon teman yang akan mengisi hari-harinya nanti.

Gugup.

Minder.

Takut.

Tak kuasa berusaha mati-matian mencari bahan obrolan. Tak banyak yang merespon ataupun timbal-balik yang datang. Bukan berarti dia sangat mengharapkan timbal-balik itu sih. Dia bisa saja memilih hidup soliter kalau mau, namun bukan itu tujuannya datang kemari, bukan?

Dan seperti sebuah cerita klise, seorang teman pun datang. Seorang. Yang memberitahukannya bahwa ia pun tak sempurna dan punya cacat. Gadis itu senang ia tidak sendiri. Ah, dia tak tahu bahwa sejak awal ia tak pernah sendiri. Warna-warna manusia di sekitarnya belumlah tampak di pertemuan pertama dan gadis itu menerima akibatnya sendiri gara-gara membuat kesalahan fatal dengan men-judge orang-orang. Terlebih, calon teman-temannya sendiri!

Beberapa menit yang berlalu dengan beberapa orang yang akhirnya berhasil ia kenal dan berusaha ia hapal namanya, membuatnya semakin merasa bersalah untuk yang kedua kalinya. Dari situ dia tahu bahwa di tempat itu pun tak ada yang sempurna dan tak ada orang yang menjalani semuanya dengan ‘mulus-mulus saja’.

Semua orang memiliki impian, tidak peduli apa pun rintangannya, tidak peduli ada di titik manakah mereka sekarang?

Impian?

Ah, ya, gadis itu ingat, tentu saja. Mimpinya menjadi salah satu komikus terkenal menggegerkan bumi khatulistiwa. Tapi ia tahan keinginan itu, ada hal yang lebih penting yang untungnya tak jauh-jauh dari hal gambar-menggambar, sehingga ia masih bisa berkecimpung dalam dunia yang disukainya semenjak kelas 3 SD.

Komikus, betapa keinginan itu terasa jauh…

.

.

.

Jangan dipikir kabut dan hujan dalam kepala gadis itu berhenti begitu saja. Tidak. Tidak semudah itu. Hanya berkumpul bersama teman-teman dan orang terdekat tidak mampu. Sebab yang ia butuhkan bukan nasihat-nasihat yang panas di telinga maupun quote-quote yang ia sendiri tidak paham artinya—bahkan ia tidak tahu darimana mereka mendapatkan kata-kata mutiara. Seingatnya, tidak ada seorangpun di sekitarnya yang pernah berkata mereka menyukai sajak dan kata-kata indah.

Yang ia butuhkan adalah sebuah penyadaran. Suatu pencerahan.

Dan Tuhan masih bermurah hati padanya, menunjukkan jalan yang entah bermulai baik atau buruk, dan berakhir buruk atau baik, keinginan egoisnya menginginkan keduanya sama-sama baik walau itu tindakan pengecut. Cari aman. Tapi bukankah semua orang ingin mencari jalan yang aman dan hidup yang tentram?

Kembali ke pemberian Tuhan tadi, gadis itu ditunjukkan sebuah sarang laba-laba yang bentuknya tidak jelas, namun satu hal yang pasti, gadis itu bisa melihat titik di tengah. Laba-laba membuat sarang dari tepi, makin lama makin jauh akhirnya sang laba-laba tiba di tengah. Lantas kenapa?

Laba-laba itu membuat jalannya sendiri. Menyusuri jalannya sendiri. Tiba di tengah, di tempat tujuannya. Dari berpuluh-puluh serat-serat liur yang tersusun rapi itu, ia bebas memilih jalan mana yang ia tempuh karena ia pasti tiba di tengah.

Sederhana.

Namun entah mengapa hal yang begitu sederhana berhasil mengangkat berat beban di pundaknya. “Terima kasih, ya Allah….”

.

.

.

Langkahnya di tempat yang prestigius ini bukanlah semata-mata keberuntungan. Ia tahu pasti ada alasan mengapa ia diberikan jalan yang mudah ini—mungkin menjadi awal dari kehidupan terburuknya—namun ia tidak peduli.

Karena gadis itu tahu, ia akan berada di tengah suatu saat nanti. Entah harus menapaki jalan yang mana.

Tidak butuh Roma untuk memilih jalan mana yang mau kautempuh. Tidak harus ke Cina untuk menuntut ilmu. Tetaplah di tempatmu, lakukan dan jalani apa yang ada hingga kau tiba di tempatmu menuju.

Tidak butuh hal muluk, hanya segenap kemauan.

Gadis itu tersenyum.

Hanya hal sederhana seperti makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini dapat menenteramkan hatinya. Harusnya ia tidak men-judge binatang satu ini dalam kategori “beracun, berbahaya, menakutkan, dan sejumput kosa kata lainnya.”

Ia simpan semua itu dalam hati. Berharap semua akan membaik dengan bahu yang ringan, pikiran yang jernih, dan satu hal, untuk tidak memvonis sesuatu hanya dari apa yang ia lihat dan dengar.

Ah, tapi untuk itu dia juga masih harus berusaha.

.

.

.

a/n:  Karya ini di-cross post tanpa revisi ulang, masih lengkap dengan segala typo-nya.

Advertisements

Have fun commenting.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s