Perjuangan Luhan (bag. 1)

Title: Perjuangan Luhan
Character(s): Luhan, Baekhyun, Ibu Luhan, Kris dan cameo lain.
Rating: T
Genre: Action, Crack
Length: Multi-chapter
Warning: crack, bahasa tidak baku, istilah tidak lazim, aneh, prepare for the worst humor! D: Terinspirasi dari Wolf Drama version pertama.
a/n: tiba-tiba ada rencana dadakan dan malah nge-post ini. Selamat membaca~!

.

.

[preview]

Dia ada di atap!

Aku harus sampai ke sana secepatnya. Harus.

Luhan pun berlari secepat mungkin sambil menghindari sekumpulan anak geng yang tiba-tiba saja mengejarnya.

[end of preview]

Sebuah perjuangan.

Hidup adalah perjuangan.

Luhan berjuang.

Dan kisah ini bercerita tentang perjuangan Luhan dalam hidup.

+++

Luhan berjalan di bawah terik matahari, masih mengenakan seragam SMA-nya yang berwarna hitam berkancing simbol sekolah yang berwarna emas—bunga teratai. Kali ini tujuannya adalah SMA Jong-Hee, sekolah yang terkenal akan gedungnya yang… dipenuhi oleh anak-anak dari berbagai geng dan klik. Di seluruh penjuru kota tidak ada yang tidak tahu mengenai SMA satu ini, termasuk Luhan. Dia tahu benar reputasinya sebagai “Pabrik Geng”. Apa yang dibicarakan para penduduk kota mulai tua-muda, pria-wanita, sama saja. Negatif. Biarpun begitu, Luhan tidak pernah—belum pernah—menginjakkan kakinya di sana.

Kebetulan sekali…

Pelanggannya kali ini berasal dari SMA Jong-Hee.

Heh, Luhan terkekeh.

Ini akan jadi sangat menarik.

+++

Luhan melangkah dengan postur tubuhnya yang biasa, penuh percaya diri walau dengan badannya yang kurus. Beberapa puluh langkah lagi ia akan tiba di sana. Handphone Luhan yang masih berlayar kuning dan monokrom—lungsuran dari kakaknya Kris yang meneruskan kuliah di luar kota yang jauh dengan beasiswa. Luhan menerawang ke langit biru. Masih diingatnya genggaman kakaknya di bahunya saat Kris akan pergi di terminal bus. Kris tidak mengatakan apa-apa.

“Aku akan merindukanmu… Kakak… T_T” tapi Luhan tidak akan mengatakannya, ataupun merealisasikan emotnya walau pada kenyataannya dia sangat ingin.

Aku harus membuat kakak bangga dan percaya, percaya padaku kalau aku bisa menjaga diri sendiri dan keluarga kami!, pikir Luhan membulatkan tekadnya.

Luhan pun berjalan keluar dengan langkah tegas tanpa kata perpisahan, meninggalkan Kris yang baru berjalan beberapa langkah menuju busnya, terpaku menatapnya sambil berharap, “Semoga adikku baik-baik saja, ya Tuhan….”

(Author mendapat sms peringatan: “Ini ff angst apa action ya btw?” dari seseorang bernama anonymous. Author pun sadar akan kekhilafannya dan melanjutkan plot)

Lalu, bunyi sms di hape butut Luhan begini: “Sudah berangkat? Aku benar-benar tidak sabar :3”

Luhan membalas: “Tunggu sebentar. Aku otw~ ;)”

Beberapa detik kemudian muncul balasan: “Klo gitu c4, aku sudah nunggu km di atap send1ri4n… panas lagi…”

Membaca balasan yang tiba-tiba 4l4y, Luhan membalas singkat padat: “ok.”

Ah~ Gadis yang menunggunya—pelanggannya—itu benar-benar deh, sampai pergi ke atap yang sepi segala… Meski Luhan mengakui sendiri ketampanannya, dia sadar, benar-benar sadar tentang itu, tapi belum pernah ada yang mengajaknya berdua-duaan dengan segamblang itu, bahkan siswi-siswi sekolahnya. Mungkin karena di balik tampang manis dan innocent-nya ini, mereka tahu betul apa yang dikerjakan Luhan di luar sekolah, di luar sana di dunia yang keras. Mereka saling berbisik di belakang Luhan, mereka menghindari Luhan walau jauh di lubuk hati mereka masih mengagumi ketampanan Luhan yang tidak pernah berubah digerus zaman dari kejauhan.

Benar-benar perempuan jual mahal, batin Luhan saat mengingat kembali saat-saat dirinya berada di kelas tadi. Muak, Luhan membolos dari kelasnya. Pulang ke rumahnya, bukan jitakan dan bentakan marah yang ia dapat, melainkan ibunya yang mendadak sumringah dan memberikan Luhan informasi menyenangkan.

Ah, ibuku memang ibu terbaaaik di seluruh dunia. Tahu kapan harus tersenyum dan kapan tidak di saat aku benar-benar membutuhkannya, Luhan membatin terharu.

Lalu ibunya berkisah. Lima belas menit dua puluh detik Luhan habiskan untuk memasukkan gelombang suara ke telinga kanan untuk dialirkan keluar lewat telinga kiri. Kupingnya panas.

Ringkasan dari perkataan ibunya sepanjang 15 menit 20 detik itu ialah sebagai berikut: menyatakan bahwa ada pelanggan yang ingin kebutuhannya terpenuhi sekarang juga! (dengan tanda seru di suara ibunya). Di S-M-A Jong-Hee. Dia akan membayar sepuluh kali lipat harga sebenarnya! <( O.O )> (katanya dengan emot O.O sambil memegangi sisi kepala dengan kedua tangannya)

“Apa?”

“Kau ingin ibu mengulanginya, Nak?” tanya ibunya makin antusias, “Baiklah, tadi—”

“Eh iya iya, aku dengar kok, Bu! Jelas sekali,” kata Luhan buru-buru sambil mengangkat kedua tangannya ke depan.

“Dan kau tahu apa?” kata ibunya dengan mata masih membulat lebar.

“Mm… tidak?” kata Luhan ragu-ragu.

PUK!

Ibunya menepuk kedua pundaknya, “Katanya, suguhan kita tampilannya cantik-cantik dan menarik, dan ia mendengar dari orang-orang terpercayanya! Oh, kau dengar itu Luhan? Menarik! Dia memuji kita, dan itu berarti tempat ini terkenal,” seru ibunya yang tiba-tiba bertingkah kekanakan sembari menepuk puncak kepala Luhan dengan bangga.

Luhan tersenyum lebar. “Sungguh? Wah kalau begitu tidak sia-sia usahaku selama ini, Kakak juga,” kata Luhan yang tiba-tiba turut berlinang air mata melihat ibunya berkaca-kaca karena terharu.

Ibunya mengangguk-angguk dan tersenyum penuh air mata lalu mengelus kepala Luhan lagi, “Iya… Maafkan ibu ya, Nak. Jadi harus mengganggumu dan membuatmu jadi begini,” katanya sambil menatap rambut Luhan yang dicat warna kuning pucat keemasan atau istilahnya blonde, dengan potongan rambutnya yang keren. Ya, sebagai pekerja di toko ibunya yang kini sendiri setelah bercerai dengan ayah Luhan—jangan tanya kenapa mereka bisa bercerai—ibunya melanjutkan bisnisnya di toko kecil di sebuah gang, yang dulunya dihina oleh ayahnya sendiri yang merasa terhina dengan pekerjaan istrinya yang padahal tidak seburuk menjadi pengangguran.

Oh, ayolah, di dunia ini sekarang kalau kau masih memilih-milih pekerjaan yang katamu sesuai dengan bakat, keinginan, dan lingkungan kerja yang kau hendaki, maka enyahlah saja. Sangat mungkin dunia tidak akan menerimamu, bung.

Luhan menghela napas mengingat mantan ayah yang masih merupakan ayahnya yang kelewat tinggi menentukan standar harga diri. Terlalu lama bergaul dengan kaum elit, standarnya berubah elit walau dengan keadaannya yang berbalik 180 derajat.

Tenang saja, Bu. Dia memang bukan jodohmu untuk mengarungi hidup hingga penghujung usiamu. Santai saja.

Tapi Ibu Luhan tidak bisa santai saat ini. Dia sibuk menelepon para pekerjanya yang lain, “Baekhyun! Ke mana saja kau?! ….. Sudah selesai?…… Ya sudah cepatlah, kembali ke sini karena kita punya banyak pelanggan untuk dilayani.” Ibunya menutup ponsel sambil menggerutu sesuatu yang bisa dijadikan gerutuan.

“Luhan? Tunggu apa lagi, ayo cepat ke sana,” kata ibunya kalem pada Luhan. Ibunya sangat mencintai Luhan, Luhannya yang tampan, Luhannya yang cerdas, Luhannya yang pandai, Luhannya yang cekatan, Luhannya yang baik dan penurut. Singkat kata, Luhan adalah Gary Stu buah hatinya yang paling tersayang.

Luhan yang masih bimbang pun mengizinkan kakinya menuntunnya sendiri ke mana pun tujuannya berada. Yaitu SMA Jong-Hee yang “populer” itu. Luhan meneguk ludah.

Saat masih menyusuri jalanan perkotaan, Luhan berjalan seperti biasa, tidak dengan langkah angkuh nan tegasnya itu. Luhan sudah membuka semua kancing seragam hitamnya, lalu melipat kemeja itu ke samping dan menusukkan peniti di samping, untuk menjaga agar tidak terlihat bahwa itu seragam sekolah—apalagi menunjukkan simbol sekolah di kancingnya pada khalayak ramai—Luhan masih tahu diri walau baru saja melanggar peraturan soal larangan keluar sekolah selama jam efektif kegiatan belajar-mengajar. Tidak lupa juga Luhan melipat kedua lengan seragamnya hingga tiga perempat siku—karena ada dua buah kancing di ujung lengannya. Yang tampak di badan Luhan sekarang kaos putih dengan semburat splash art warna coklat yang semakin ke bawah semakin pudar. Lingkar leher kaos itu berbentuk huruf V dan longgar. Luhan melintasi etalase pertokoan yang mengkilap dan memutuskan untuk berhenti sebentar. Ngaca dulu, mamen. Luhan tersenyum pe-de dan melihat replika dirinya di kaca toko yang super bening dan kinclong itu sebelum terpana sendiri.

Luhan kini benar-benar terlihat seperti……… penjual gorengan yang kaosnya terciprat minyak jelantah yang nodanya tidak bisa hilang bahkan dengan deterjen ampuh dengan butiran biru-putih-merah dikombinasi sekalipun. ( -__-|||)

Menyadari kesalahannya dalam mengutarakan rasa bangganya pada sekolah dengan memamerkan pakaian seragam dan dalamannya, Luhan berbalik ke arah rumah dan berjalan dengan sangat cepat menembus keramaian, ingin cepat-cepat mengganti bajunya. Salah siapa cermin satu-satunya di rumah pecah saat ibunya bersemangat menangkap tikus rumahan?—yang ngomong-ngomong sudah menguning juga kacanya. Dan sebenarnya Luhan sedang mencoba mencari-cari pembenaran di balik kenyataan bahwa dia lupa berkaca.

Di saat-saat seperti inilah Luhan bersyukur atas anugerah Tuhan pada wajahnya sehingga bisa mengalihkan perhatian publik ke wajahnya daripada bagian leher ke bawah.

“Luhan, kenapa kau kembali?!” teriak ibunya kaget.

“Eee, anu, aku lupa ganti baju, Bu. Hehe. Kan sayang besok masih dipakai,” Luhan berkelit dengan mahirnya. Ibu Luhan mengiyakan saja dan menyuruhnya cepat. Segera Luhan beranjak ke kamar mandi.

+++

Perjalanan bolak-balik tersebut memakan waktu sangat lama, apalagi tadi Luhan masih sempat berkaca di etalase toko jahanam itu selama lima menit penuh, menginspeksi seluruh bagian tubuh yang terang saja menciptakan sedikit kerumunan wanita-wanita yang mengagumi keimutannya. Sekarang Luhan cemas apakah pelanggannya masih akan menerimanya. Semoga saja wajahnya masih cukup untuk menjadi pelipur lara gadis itu.

Setelah berjalan dengan langkah lebar-lebar dengan ritme yang sudah setara drum musik rock n’ roll, tidak sia-sia bulir-bulir keringat sebesar jagung di dahi Luhan mengucur, diiringi sunggingan senyum puas yang walhasil menyibak gigi semi-tonggosnya.

Gedung SMA Jong-Hee tampak menjulang dengan aura gelap yang tidak akan dapat dilihat oleh mata rusa Luhan.

a/n: ini apa…

Advertisements

7 thoughts on “Perjuangan Luhan (bag. 1)

  1. ini lumayan menghibur ^^
    luhan udah kayak yang bangga bwanget sama wajah tampan semi cantiknya………

    halo~ amusuk ley mampir di WP-mu, setelah 2hari perjalanan keliling AFF. (???) XDD

    salamkenal~~~

    • hai ley,
      salam kenal jugaa
      apa kita udah friend-an di aff? :D
      u can introduce yourself there, bb ;)

      dan makasih udah baca fic saya di sini, hihi

  2. Annyeong,setelah berkelana di Aff saya nemu blog author Amusuk °\(^▿^)/°
    Well..apa ini? Sumpah ngakak bacanya,wkwkwkkk….
    Paling ga kuat pas baca “baju luhan udah kaya penjual gorengan yang terkena cipratan minyak jelantah” *ngakakguling-guling*

    • gyahaha, kamu orang kedua yang berani komen di blog ini -uhuk- *abaikan*
      kalau kamu menemukan fic macam ini muncul dariku, itu berarti Amu lagi di ambang-ambang stres/frustasi/suntuk #fenomenaabalmasakini.
      makasih udah ngakak+RLAB ^^

Have fun commenting.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s