Bon Aniversari

Title:  Bon Aniversari
Pairing: Chanyeol/Kyungsoo
Rating: T
Genre: Myth/Romance. Shou-ai.
Length: Oneshot
Summary: [for aliceninelovegazette] “Restu bumi, kupersembahkan, untuk Surya sang penerang alam.” /happy belated birthday kak!

.

.

.

simpleGIFTto 

YOU

Prativi turun, menjejakkan kakinya di tanah suci dunia.

Menunggu.

Ditunggu berapa lama pun, hari tidak pernah ada, di masa ketika malam meraja. Tanpa surya, tanpa cahaya.

Hari yang tidak kunjung datang karena memang tak pernah terbuat.

Hingga suatu ketika Tuhan menciptakan Surya untuknya.

Dan dunia pun merasakan segarnya nafas cahaya di mata mereka.

Dunia pun terang seketika.

Dan orang-orang mulai meninggalkan malam.

Namun mengagumi berkah yang dibawa Prativi kala hari masihlah malam.

Pernah dikatakan padanya, bahwa tugas akan diemban. Beban akan bertambah, bertumpuk, lama-lama menjadi bukit, bukit menjadi gunung, gunung pun berantai, dan sebagainya. Pendalaman ilmu dan ketenangan, ditambah berkah dari Yang Kuasa, maka terciptalah air, air menjadi sungai, sungai menjadi laut, ada pula yang jadi danau. Ia mengangguk, pada Sang Pencipta dengan penuh tanggung jawab atas apa yang akan diberikan.

Dia tercipta sebagai sosok pembawa berkah bagi dunianya. Dunia yang disebut bumi. Dengan sosok yang jelita, mata yang besar dan jernih, suara yang merdu, menebar rezeki pada jutaan umat makhluk.

Prativi mengangkat kaki dari langitnya para dewa, menuju Bumi yang ditunjuk-Nya. Dengan lantunan nada yang indah, nada selamat datang yang bersemangat dengan suaranya yang menggetarkan hati. Dia lakukan semua-semua yang menjadi tugasnya sebagai Dewa Bumi.

Namun,

bumi kala itu gelap. Gelapnya tak terkira, hingga manusia sang penghuni pun tidak tahu harus melihat apa. Di antara semua keindahan yang dimiliki, hanya kegelapan yang menghalangi pandangan mereka yang melihat-tapi-tak-sanggup, membuat tirai menjadikan keindahan itu semu. Padahal keindahan itu ada di sana, tepat di sekitar para penghuni dunia.

Prativi, Sang Dewa Bumi, tidak tahu harus memohon apa untuk para makhluk yang dicipta. Malam itu membutakan mereka.

Dia menunggu, berdoa agar semua dapat membaik (walau tidak tahu apa yang mesti diminta). Berdoa dan tidak henti memberi rezeki. Manusia-manusiaku harus bahagia, mereka harus bertahan, mereka harus melihat dengan jelas, bukan di remang-remang malam yang hanya mengandalkan insting demi kebaikan diri masing-masing. Itu yang dia rapalkan tiap hari dalam doanya.

Saat itulah Tuhan mendatangkan Surya. Surya yang membuat malam berganti hari.

Pepohonan yang hijau pun tampak. Rumpun padi yang menguning pun terlihat. Langit biru. Awan putih. Air yang beriak di sungai, tampak tenang di lautan dan danau-danau. Semua makhluk terkagum melihat betapa indahnya dunia yang dirawat Prativi.

Orang-orang mulai membuat sesajian untuk Mereka, para dewa yang berkuasa atas dunianya—menurut titah Sang Pencipta. Setiap kali, di hari yang istimewa, untuk Surya, dan juga Prativi.

Saat Surya berkata, bahwa cahaya akan membantu manusia untuk melihat, memudahkan mereka bekerja dan belajar, termasuk juga menyadari keindahan dunia yang mereka huni, Prativi menyimak. Begitu hebat Sang Surya ini, pikirnya.

Bagi Surya, tidak ada seorangpun di dunia yang mampu menatapnya, menyimak dirinya dengan mata yang besar seperti yang dilakukan Prativi. Diam-diam, dia mengagumi Prativi dengan kemampuan dan kehebatannya, dia yang tidak hancur karena sinarnya.

Orang-orang mulai buta.

Buta karena cahaya.

Gemerlap dunia membuat mereka ingin segalanya berlumuran cahaya. Cahaya adalah hiburan. Manusia mulai dibutakan lagi dengan berkah dari Surya. Tanpa malu, tanpa baju yang pantas, di bawah sinar mentari, tanpa rasa bersalah. Darah perang yang hanya ditumpahkan saat matahari terbit dan harus berakhir saat matahari terbenam, membuat Surya dirundung duka.

Prativi tidak dapat berbuat apa-apa demi cintanya—ya, dia yakin itu cintanya karena tidak ada hal lain di dunia yang mampu membuatnya menunggu-nunggu dengan senyum terpatri setiap pagi, melihatnya terbangun dan menyapa dunia dengan hangat sinarnya, menguapkan dingin sisa embun malam.

Saat ingin mengutarakan isi dalam dada, manusia entah dari belahan dunia mana tengah berdoa untuknya, dan untuk Sang Pencipta. Dan tidak mungkin ia akan mengabaikan mereka yang telah berdoa memohon kesejahteraan. Prativi pun pergi, tanpa sempat mengucapkan salam pada Surya, tanpa apapun selain tatapan yang merindu.

Hingga tiba saatnya, saat manusia telah berhenti berdoa dan memuja. Ini kesempatan yang baik bagi Prativi. Namun… hari itu adalah hari dimana dia akan kembali ke dunia atas, hari dimana seluruh manusia akan kembali pada-Nya, termasuk juga dirinya. Prativi tidak akan dapat berbicara hari ini, karena percuma tidak ada yang dapat mendengarnya di antara gemuruh hancurnya Bumi. Ingin mengatakan betapa berterimakasihnya ia pada Surya atas cahaya yang dilimpahkan sehingga dirinya dapat diagungi manusia.

Surya yang telah bersiap menghadapi hari yang berat ini pun sama saja. Menjadi penolong bagi Prativi merupakan sebuah kehormatan.

Namun di penghujung hari, masih sempat ia gumamkan sebaris kalimat dengan gerakan bibir yang terbatas.

Sebelum kegelapan menghisap mereka pada suatu kehampaan.

Kembali ke awal masa.

Hari masih pagi sekali. Tapi perpustakaan sudah dibuka karena pustakawannya memang rajin, yang mana merupakan sebuah berkah bagi mereka yang datang terlalu pagi.

Kyungsoo berusaha meraih buku sejarah yang ada di ujung rak dekat jendela besar. Terlalu tinggi. Salahkan otaknya yang masih mengantuk sehingga ia tidak berinisiatif mengambil tangga. Hari ini jam kedua ada pelajaran sejarah dan ia butuh referensi untuk bab yang akan dibahas nanti. Ujung-ujung jari kakinya terasa sakit akibat berjinjit terlalu lama. Pemuda itu yakin ia tidak pernah melewatkan segelas susu sehabis sarapan tiap pagi, tiap hari. Mungkin ia bisa melayangkan surat pengaduan untuk produsen produk susu yang menggembar-gemborkan hasil survey orang yang meminum produk mereka. Nyatanya, di sini ia, tidak bertambah tinggi juga. Mungkin ia juga harus mengadukan para pembuat iklan itu yang sukses menyeret kakinya untuk pergi ke minimarket terdekat untuk membeli sekotak. Apapun itu, abaikan selinting pemikiran sesat itu, sekarang ia butuh mengambil buku itu. Sedikit lagi…

Sebuah tangan yang jauh lebih besar dan berkulit lebih gelap tiba-tiba muncul dan meraih buku itu. Sesaat tampak jelas perbedaan kulit mereka karena kulit Kyungsoo yang putih pucat, tak pernah olahraga.

“Ini?” Orang itu menawarkan hal yang sudah jelas, membuat Kyungsoo ingin berkomentar tapi tertahan di tenggorokan.

Kyungsoo menganggukkan kepala. Orang di hadapannya itu sangat tinggi, berambut keriting berwarna oranye-kecoklatan, menyodorkan buku berat dan tebal itu di dada Kyungsoo. Orang itu adalah salah satu hal yang biasa Kyungsoo lihat di sini di pagi hari. Melihatnya pagi-pagi di tempat ini—mungkin karena rumahnya jauh sehingga ia datang dengan kereta paling pagi dan tiba di sekolah pertama kali, Kyungsoo tidak tahu tapi tidak pernah bertanya.

“Terima kasih, Chanyeol.” Nama yang ia tahu dari buku perpustakaan yang tidak sengaja diliriknya di satu kesempatan saat meminjam buku. Di rak kedua dari kiri, kolom pertama, buku hijau milik murid kelas dua.

Pemuda yang masih satu angkatan dengan Kyungsoo itu tiba-tiba menyorot. Pandangannya terhenti di dada Kyungsoo. Sebuah kalung berbentuk lambang yang ia kenal dengan baik.

Dia pun tersenyum. “Bumi…,” gumamnya, “kau adalah bumi.”

Kyungsoo mendongak dan menatapnya yang masih memandangi kalung artefak yang ia dapat secara turun-temurun dari keluarganya.

Chanyeol melanjutkan, “Kenapa kita tidak duduk saja dan mengobrol selagi tidak ada maniak-keheningan di perpus ini, toh penjaga perpus sedang ada di pojok sebelah sana—entah membaca, menyorting, atau menyembunyikan sesuatu.”

Kyungsoo melirik arloji di pergelangan bagian dalamnya—kebiasaannya saat melihat ibunya, yang tampak elegan di matanya. Masih setengah jam sebelum bel, batinnya. Sebenarnya ia masih ingin mengecek PR yang semalam ia kerjakan, dan cepat-cepat pergi ke kelas kalau-kalau si Sehun atau Jongin (lagi-lagi) lupa membuat PR.

Tak sampai semenit mereka tiba di meja baca, tempat Chanyeol meletakkan tas selempangnya. Dia mengeluarkan buku tulisnya, dan di saat itulah Kyungsoo memperhatikan jemarinya. Di jari telunjuknya, ada sebuah lingkaran…

Surya…,” celetuk Kyungsoo tertarik, “kau… adalah matahari.”

Selama dua tahun lebih ia memperhatikan, baru kali ini menyadari adanya cincin tersebut di jarinya.

“Selamat ulang tahun,” katanya tiba-tiba. Membuat Kyungsoo menatapnya kaget sekali lagi. “Karena aku tahu sang Bumi berulang tahun hari ini, dan hanya dia yang dapat memakai kalung itu.”

Kyungsoo tergelak sesaat sebelum berkata tanpa pikir panjang,”Kau tahu banyak juga ya. Mungkin aku mengagumimu sekarang,” kata Kyungsoo sambil merapatkan tangannya yang mulai kedinginan dengan suhu pagi yang merembes lewat jendela ditambah suhu AC ruangan.

Tawa yang biasanya hanya ia lihat untuk teman-teman kelasnya saja, kini ada di sini, untuknya. Gara-gara kalung warisan yang dipakainya ini. Kyungsoo merasa beruntung bisa berhadapan dengannya saja, walau ia tidak tahu-menahu apapun tentang Chanyeol, tidak dari manapun atau siapapun, selain waktu ia memperhatikannya saja. Tapi… mungkin ia memang tahu siapa Chanyeol. Kalung itu seakan memberitahunya lewat mimpi-mimpi yang ia dapat terkadang. Ada respek yang tersembunyi, walau penampilan Chanyeol sangat bertolak dari perasaan yang harusnya hanya muncul di hadapan ketua OSIS, ketua kelas dan berbagai manusia spesial lainnya.

Pemuda jangkung itu mengelus bulat cincin itu di jarinya dengan tangan kirinya. Entah bagaimana Kyungsoo merasa dia bisa melihat tembus ke dalam dirinya. Benda yang ada di jari telunjuk Chanyeol itu merupakan sebuah benda berumur ribuan tahun juga, mungkin sama seperti kalungnya. Dan menurut kakeknya saat ia menerima benda berharga di dadanya ini, dalam benda tersebut terdapat roh. Mungkin karena itu Kyungsoo yang biasanya cuek kini dapat merasakan betapa lembutnya sinar matahari yang menembus jendela besar membias di kulit pucatnya, seolah membelai. Mungkin karena itu Chanyeol yang tak pernah bisa diam di tempat, kini terlihat bisa merasakan betapa tenang dan mantapnya tempat yang ia pijaki ketika ia diam. Mengapresiasi. Mungkin karena itu, dua jiwa yang biasanya hanya dapat menatap saat yang lain tidak melihat ini kini ada di sini, bertemu. Bertatap muka, meski mata tak saling memandang.

Ada pesan yang belum tersampaikan.

“Nanti sepulang sekolah, 17.30, temui aku di lapangan basket, hm?” Bola mata jernih Kyungsoo terangkat mendengar suara Chanyeol dan ia memberi persetujuan, sebelum mereka berdua beranjak karena bel masuk samar berbunyi menembus ruang perpus yang nyaris kedap suara. Bersamaan mereka keluar.

Kyungsoo berjalan seorang diri di menembus kerumunan para siswa yang menatap pemuda dengan mata yang jernih itu dengan sinis, dan semua itu berlalu di depan mata Chanyeol walau ia tidak menoleh balik untuk melihatnya.

Setahun lalu, pemuda mungil yang berjalan dengan mata tertunduk itu terlihat olehnya. Di antara para manusia yang menatap ke arah langit, dia hanya menatap ke bawah seolah tanah itu benar-benar menarik.

Hingga sekarang ia masih berjalan dengan tertunduk. Dan saat ia mendongak padanya, barulah Chanyeol sadar betapa lebar dan jernih bola mata pemuda itu.

Aku mengagumimu, kau yang belum terlihat keindahannya.

Seperti Prativi saat dunia masih berbalut kegelapan.

Hari itu hari dia diciptakan, saat ia harus kembali ke Swarga bersama seluruh makhluk Tuhan. Kata-kata yang tak sampai di masa itu…

Chanyeol berpikir ingin menjadi seperti Surya. Pemuda itu hanya belum menyadari seberapa indah dirinya. Dia yang masuk peringkat lima besar paralel, bertubuh mungil yang sejujurnya membuatnya tampak manis, berkulit putih bersih, suara yang punya potensi penyanyi (Chanyeol pernah mendengarnya bernyanyi kecil di toilet pria). Entah kenapa makhluk penuh bakat itu tidak menyadari kehebatannya. Tidak seperti dirinya yang tak pernah merawat wajah dan tubuh, jerawat ia biarkan tumbuh, daki adalah sahabat sejati, dan rambut yang—harusnya panjang tapi dipotong oleh guru konselingnya kemarin—berwarna oranye cerah melukiskan hatinya, tapi dia tetap bisa berjalan tegak dengan semua kekurangan itu hanya dengan satu alasan, satu hal di tempat dan waktu yang benar.

Hm.

Tampaknya Kyungsoo—nama yang ia lihat di kolom nama seragamnya sejak setahun yang lalu—tidak tahu bahwa dirinya adalah vokalis dari band terkenal seantero sekolahan. Mungkin ia bisa memberi kejutan dengan sedikit percikan cahaya dari statusnya kini untuk Kyungsoo. Ya, itu bisa jadi kado yang baik untuk acara dadakan sore nanti.

Mereka bisa jadi teman yang baik.

(walau Chanyeol berharap lebih, tapi itu bisa menunggu seiring waktu)

“Selamat ulang tahun, Kyungsoo.” Chanyeol merapal kalimat itu dalam kepalanya. Ada kemungkinan ia telah menjadikannya sebuah lagu indah saat sore tiba bersama senyum mentari senja, dan juga Kyungsoo tentunya.

 


a/n: hehe, happy belated birthday, kak. walau telat 9 hari dan… yah, entah harus dibilang apa fic dadakan ini.

header layout credit to violetkecil
Advertisements

2 thoughts on “Bon Aniversari

  1. kak amu.. akhirnya aku sempat buat baca karya kakak. salah satu author yg menginspirasiku!
    kata-kata yang kakak rangkai selalu bisa bikin aku ngga mau ngelewatin satu baris pun :)
    sukses selalu kak amu :)

Have fun commenting.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s