Fate Downs [bag. 1]

Title: Fate Downs
Pairing: Kai/OC
Rating: T
Genre: Romance, Angst
Length: Oneshot
Summary: Takdir itu bisa diubah, kan? Bila untuk mengubah takdir itu seseorang perlu mati, maka…


.

.

.

Runa kecil sering memperhatikannya, seorang pemuda yang beberapa tahun lebih tua darinya melintas di koridor sekolah menengah. Pemuda itu tidak biasa, dia memancarkan aura yang berbeda dibanding kebanyakan orang. Tanpa ia sadari, orang-orang mengetahui kalau Runa sering memandang pemuda spesial itu dengan takjub.

Di umurnya yang ke sembilan, orang tua Runa mulai berusaha mendekatkan dua orang itu dengan sangat perlahan. Runa tidak keberatan bila harus mengirimkan coklat buatan ibunya ke rumah pemuda itu. Awalnya, ia tidak setuju bila harus mengirimkan tiap bulan, sebab mereka juga butuh uang. Mereka putuskan setahun sekali di hari-hari tertentu tiap musim dingin.

Namun, ketulusannya berubah begitu mengetahui kenyataan—yang sangat ia sesali—yang ia dengar diam-diam dari beberapa tetangganya saat kebetulan Runa sedang memakai payung besar di hari yang terik sambil membelakangi mereka. Runa berdiam diri di situ sambil sesekali mengipasi diri dan mengetuk-ngetuk ujung sepatunya seolah menunggu seseorang yang terlambat.

“Kau tahu anak tetangga kita? Ya, ya, yang manis itu, sudah diputuskan dia yang akan jadi pendamping Tuan Kai, kan? Orang-orang seluruh kota pun sudah setuju, jadi kita tidak perlu mengorbankan putri kita…” Runa heran tapi ia dapat menjaga wajahnya tetap tenang, meskipun mereka tidak akan melihatnya.

“Ya, pilihan bagus. Tuan Kai tidak banyak berubah semenjak aku masih kecil. Aku sendiri juga kaget waktu pertama kali dengar bahwa dia seorang chasteblood. Tiap beberapa tahun sekali, dia butuh seseorang untuk memuaskan dahaganya atau… dia akan memakan kita semua di kota ini…”

Semenjak percakapan itu, Runa datang untuk pertama kalinya ke rumah Kai dengan coklat di tangannya yang berbalut baju hangat yang tebal, tanpa senyum, tanpa kata. Dan Kai akan menerimanya dengan gerakan elok bahkan bisa membuat iri wanita. Beberapa detik mereka hanya saling berpandangan, saling menyelami kedalaman masing-masing pintu, sebelum Runa memutuskannya. Ia membungkukkan badan dalam-dalam dan melenggang pergi setelah Kai membalas salamnya. Runa tidak ingin terlibat hubungan dengan seorang pembunuh, pemakan darah manusia! Seenaknya saja orang-orang menjadikannya tumbal. Runa juga ingin hidup normal, menikah dengan laki-laki biasa.

Dan di hari dimana Kai mengajaknya ke taman kota, ia tahu apa yang ingin Kai sampaikan di tempat janji esok harinya. Ia tidak mau mengambil resiko. Kebenciannya terhadap makhluk itu meski ia masih memiliki perhatian padanya mengalahkan segalanya. Runa memilih untuk tidak menemuinya lagi. Lebih baik pergi daripada dikejar beban berat oleh penduduk sekota.

.

.

.

Advertisements

Have fun commenting.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s