Duli Kereta Terakhir (bag. 2-habis)

Title: Duli Kereta Terakhir
Pairing: Chanyeol/Jiyoung
Rating: T
Genre: Angst, Romance. School life!AU
Length: Two-shot (bag. 2-habis)
Summary: Jiyoung akan menanti Chanyeol di kursi paling belakang peron untuk menepati janjinya.

.

.

.

PENGHUJUNG musim gugur tiba, udara mulai bertambah dingin. Jiyoung berangkat ke stasiun pagi-pagi seperti biasa hanya saja kali ini ia mengenakan baju berlapis-lapis untuk menghalau hawa musim dingin yang sudah dapat terendus. Secercah senyum tampak di bibirnya. Sebentar lagi ia akan bertemu orang yang sangat ditunggu-tunggu, apalagi katanya dia akan membawakannya sesuatu, Jiyoung makin tidak sabar.

Di salah satu perempatan menuju ke stasiun, Jiyoung melihat pohon cherry blossom yang daun-daunnya berubah merah sangat kecoklatan dan kering di sana. Hanya ada beberapa orang saja di perempatan tersebut termasuk Jiyoung yang menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau. Kendaraan berlalu-lalang tapi tidak terlalu banyak.

Lampu pejalan berubah hijau. Jiyoung melangkah cepat, begitupun beberapa orang di sampingnya.

Tiba-tiba saja angin bertiup kencang menggugurkan sebagian besar daun-daun dan membentuk pusaran angin dan daun di udara. Puting beliung kecil. Jiyoung mendongak melihat pusaran angin yang cukup kuat itu meski tak sedikitpun sebanding dengan tornado.

Dahan-dahan yang terkenal pusaran angin itu berterbangan dan mengenai salah satu kendaraan yang melaju di jalan lain, membuat supir yang panik berbelok drastis, supir itu harus menghentikan kendaraannya. Sayang sekali, paniknya tidak membuat ia menginjak pedal rem. Supir itu tidak bisa melihat jalan karena terhalang dahan cherry blossom yang menabrak kacanya menutup hampir seluruh kaca depan mobilnya dengan daun-daun dan ranting, sebelum suara debum mengerikan menggema di udara. Disusul dengan teriakan wanita dan derap langkah orang-orang yang mendekat. Saat tersadar dari kebingungannya, supir itu menyembulkan kepala dari jendela pengemudi, mengamati apa yang terjadi di jalanan.

Seorang gadis muda berseragam SMA terbaring tak bergerak di tepi jalan dengan posisi yang janggal. Sebelah kakinya seperti tertahan di tiang rambu jalan. Kepalanya tampak tidak terluka parah. Gadis tak beruntung itu nampaknya masih sadar. Namun ia memegangi kakinya yang seolah tidak dapat digerakkan dengan wajah kesakitan. Salah seorang pria berusaha mencegat mobil. Tapi dilewati. Untung saja mobil berikutnya mau berhenti. Orang-orang bersama-sama membopong gadis itu masuk ke dalam mobil. Menuju rumah sakit.

__

Stasiun kota tidak seberapa ramai. Masih pagi dan seorang pemuda bersandar pada tiang di peron. Ia tersenyum. Beberapa orang yang melihat sedikit memberinya tatapan-tatapan tidak biasa. Haha, tapi Chanyeol mana peduli. Sesekali ia menatap kotak berbungkus kertas kuning bermotif di tangannya. Ia berusaha menahan bibirnya supaya tidak merekah terlalu lebar yang mungkin akan menakuti Jiyoung nanti—padahal senyumnya sendiri sudah menakuti orang yang lewat.

Chanyeol melirik arlojinya. Tidak biasanya Jiyoung telat. Dia selalu, selalu, berangkat sangat pagi. Membuat Chanyeol yang biasa tiba di stasiun dekat sekolah 10 menit sebelum bel, sekarang sampai di tempat yang sama tiga puluh menit sebelum bel masuk. Untung juga sih, dia bisa berjalan santai dan masih bisa merapikan tulisannya saat membuat PR-nya di kelas. Gurunya saja sampai memuji (?), “Chanyeol ikut kursus menulis ya?” Hehe, Chanyeol tidak dapat menahan tawanya kalau mengingat kejadian itu.

Tunggu, kenapa malah tertawa, sekarang Jiyoung belum datang, kereta mereka sudah lewat barusan. Yang tersisa kalau tidak mau terlambat ya kereta lama Chanyeol.

“Jiyoung-ah…” batinnya.

Keesokan harinya, Chanyeol datang pagi-pagi ke stasiun. Mungkin Jiyoung hari ini datang? Lagipula kenapa di antara obrolan-obrolan tidak penting mereka, ia tidak pernah menanyakan, setidaknya di mana kelasnya berada supaya ia bisa tanya teman-teman Jiyoung. Kalau nomor ponsel sih, Chanyeol melambaikan bendera putih saja. Mereka memang bertemu selama tiga minggu, tapi hanya di stasiun. Di sekolah, Chanyeol juga melihat Jiyoung, tapi dia bersama teman-temannya. Chanyeol tidak sampai hati mau mengganggunya hanya untuk “obrolan tidak penting”-nya. Di saat-saat lain, Chanyeol juga melihatnya saat baru selesai olahraga dan Chanyeol sedang ke perpustakaan karena jam kosong. Jiyoung di depan ruang ganti, Chanyeol hanya butuh untuk berbelok dari tempatnya dan berjalan 5 meter. Tapi entah kenapa rasanya jauh. Chanyeol malah langsung meneruskan langkahnya ke perpustakaan.

Seperti kemarin, kereta Chanyeol dan Jiyoung yang biasanya sudah lewat.

Di mana sih dia?

Hari berganti minggu. Dan sampai saat ini Jiyoung tidak pernah datang ke stasiun.

Chanyeol sudah bertanya pada teman-temannya (setelah tiga hari mengumpulkan keberanian untuk menunggu mereka di dekat koridor ruang ganti wanita dan melontarkan satu sapaan dan satu pertanyaan “hai, kalian tahu di mana Jiyoung?”) tapi jawaban tidak memuaskan yang ia dapat.

“Orang tua Jiyoung bilang dia sakit, dan kami tidak pernah bicara dengan Jiyoung sejak itu.”

__

“Jiyoung-ah, temanmu menelepon nih.” Suara lembut seorang wanita mengisi ruang kamar berisi tiga orang pasien yang salah satunya adalah Jiyoung.

Ia hanya menggelengkan kepala. “Aku tidak ingin mereka datang dan melihatku seperti ini, Bu…”

“Tapi mereka teman-temanmu..”

“Iya aku tahu tapi aku tidak mau mereka melihatku begini. Aku tidak mau merepotkan mereka. Mereka bukan keluarga kaya dan tinggalnya di pinggiran kota lain yang jauh. Mereka bersekolah di situ saja karena beasiswa. Berjalan ke sini dari sekolah sangat jauh. Naik kereta akan mahal buat mereka. Biarlah mereka belajar dengan tenang.”

Ibunya tersenyum. “Baiklah kalau itu maumu.”

__

Sudah sebulan ini, yang ditunggu tidak datang-datang juga. Chanyeol sudah diambang putus asa. Chanyeol tidak pernah menunggu sebelumnya. Naik kereta saja Chanyeol tepat waktu, terlalu tepat waktu malah, saat keretanya sudah tiba dan pintunya terbuka itu Chanyeol baru tiba di peron. Sampai di sekolah, duduk, mengobrol sebentar atau menyalin, selesai, gurunya masuk. Tiba di rumahnya pun, ia cukup mandi dan ganti baju, lalu turun dan makan malam sudah siap. Belajar, nonton film, semua berhenti di jam 10, ia tidur. Tanpa mimpi dan saat tersadar, alarm berbunyi dan ia pun membuka mata. Benar-benar efisien dalam tingkatan yang ekstrim.

Tapi tidak setelah bertemu Jiyoung.

Tidurnya mulai dihiasi mimpi; mimpi yang biasanya kosong berganti penuh warna dan wajah seseorang. Tontonan yang biasanya hanya film laga dari Cina atau Hollywood, entah kenapa sekarang ia membuka hati untuk menonton drama dari negeri sendiri. Well, lihat apa yang sudah Jiyoung perbuat pada hidupnya.

Sesuatu yang baru dan membuatnya bersemangat, ia bergeser dari lingkaran waktunya yang kelewat tepat.

Tapi Jiyoung masih belum datang juga. Katakan saja Chanyeol bodoh karena sudah menghabiskan empat puluh menit sia-sia di stasiun, tapi ia tidak merasa begitu. Di waktu-waktu itu selalu ada ingatan yang membuatnya betah menunggu. Lagipula, ia sudah janji. Seumur-umur, Chanyeol hanya ingat pernah membuat janji pada neneknya saat neneknya memaksa semua keturunan dari keluarganya harus mengenal resep tradisional ini, untuk bisa membuat kue lemon di luar kepala. Setelah perseteruan sengit (tapi entah kenapa membuat ayah dan ibu tertawa), akhirnya Chanyeol mengikrarkan janjinya. Dan terbukti ia bisa membuatnya tanpa melihat resep, seolah membuat kue itu sama dengan menulis di kertas.

Chanyeol bersandar pada tiang di peron. Kali ini earphone terpasang di telinganya, menemani penantiannya. Musik rock berdentum-dentum. Tangannya memegang kotak itu. Chanyeol beranjak dari posisi untuk mengawasi pintu masuk, mungkin saja dia datang. Tapi tidak ada. Chanyeol berbalik ke posisi awal. Mendadak seseorang yang terburu-buru tidak sengaja menabraknya, membuat kotaknya terpental jatuh. Orang itu membungkukkan maaf. “Oh iya, tidak apa-apa.”

Chanyeol melihat kotaknya yang terjatuh jauh sekali. Memutar bola matanya, ia turun dengan “hup!” dan memungut kotaknya, menepuk-nepuknya supaya debunya tidak menempel. Tiba-tiba saja rel yang gelap itu jadi terang. Chanyeol menoleh dan melotot mendapati benda raksasa itu sudah sangat dekat. Tembok peron satu meter tingginya dan merintangi Chanyeol yang tidak pernah mempunyai fisik bagus itu untuk naik. Auman kereta mulai mengalahkan dentuman musik di telinganya. Tidak ada waktu! Chanyeol melempar kotaknya.

__

Nyaris sebulan sudah sejak kecelakaan sial itu. Jiyoung akhirnya dapat berjalan setelah beberapa hari harus menggunakan kursi roda, lalu kruk, dan akhirnya berdiri di atas kaki sendiri. Sebulan tidak pernah lewat ia melatih jalannya dan meminum obat yang dianjurkan untuk mempercepat kepulihannya. Kaki yang harus baru sembuh total sebulan lagi itu kini sudah dapat digunakan untuk berjalan. Kadang agak nyeri sih. Tapi Jiyoung tidak peduli.

Jiyoung diantar ke sekolah. Dan mendapat pelukan sekaligus jitakan dari kedua temannya.

Yah, ibumu bilang tidak perlu menjengukmu, nanti dia akan sembuh kok,” kata Hara dengan nada mengejek.

“Oh, dan lihat, gara-gara kau, nilai uts kita jadi anjlok,” kata – dengan nada yang tidak kalah dengan Hara.

Jiyoung menatap mereka dengan kaget. “Lho? Kok bisa!?”

“Ya bisalah, gara-gara kau, kami menghabiskan sebagian malam kami untuk merencanakan acara penyambutanmu, Bu Sekretaris!” Sambil berkata begitu Hara melebarkan kedua tangannya.

“SELAMAT DATANG!!!” teriak murid-murid sekelas dengan kompak.

Bendahara kelas lalu berjalan ke arahnya dengan senyuman. Lalu menunjukkannya buku absen. “Lihat ini! Aku yang mengisi semuanya sebulan ini,” katanya dengan bangga, yang sukses mendapat huuuuu panjang dari teman-teman yang lain. Jiyoung tertawa.

Setelah semua keriuhan pagi yang benar-benar membuatnya semangat hari itu, semua kembali ke tempat duduk. Pada kedua teman terdekatnya, ia berkata, “Maaf ya, aku cuma ingin kalian tidak khawatir dan mendapat nilai bagus di ulangan tengah semester kemarin itu, aku tidak tahu jadinya—” – keburu menarik kedua pipi Jiyoung.

Jiyoung pabo~!”

“Ayo kita siksa dia sampai pulang nanti, ini gara-gara membuat kami khawatir dan kau malah enak-enakan menghilang.”

“Uaaagh!! Ampuun~”

Sepulang sekolah Jiyoung dijemput. Tapi Jiyoung menolak diantar-jemput untuk keesokan harinya.

“Kenapa? Baru sehari saja, kakimu…”

“Aku baik-baik saja, Ayah. Jangan manjakan kakiku, ini supaya kaki kananku lebih cepat sembuh dan terbiasa berjalan dengan dua kaki lagi. Kau tahu kan, Yah, aku sibuk di sekolah dan mengandalkan kakiku ini ke mana-mana.”

Ayahnya menghela napas. “Arraseo….”

Di sinilah Jiyoung sekarang, jam setengah enam seperti biasa di stasiun. Jiyoung menoleh-noleh. Mencari-cari sosok jangkung dengan kedua telinga uniknya. Ah, ia melihat seseorang yang sangat tinggi dengan rambut hitam pendek yang ia kenal sedang memakai earphone. Ia menepuk pundaknya. “Chanyeol—”

Dia menoleh, “Maaf?”

Suaranya berat, tapi bukan suara berat Chanyeol dan wajahnya pun terlihat sedikit mengintimidasi. Impresinya menghapus semua tanda-tanda kerupawanan orang itu, membuat Jiyoung hanya berkata, “O-oh, aku salah orang. Maaf… aku salah orang.” Ia berbalik ke tempat ia biasa menunggu dengan Chanyeol, meninggalkan orang itu yang tampaknya agak kaget dengan reaksi biasa-biasa saja Jiyoung. Seandainya tidak ada orang lain di pikirannya sih mungkin Jiyoung akan bereaksi lebih dari “biasa-biasa saja”.

Namun, Jiyoung lebih dikagetkan dengan adanya tanda polisi di tempat tujuannya. Ada beberapa polisi menjaga di sana. Melihat wajah-wajah mereka yang tampak tidak bersahabat dan badan besar mereka, Jiyoung berbelok arah. Sampai di situ, ia mencuri-curi lihat ke tempat ia biasa menunggu. Tidak ada apa-apa. Apa ada kecelakaan ya? batinnya. Tidak sengaja kakinya menabrak sesuatu. Sebuah kotak kuning bermotif… lemon? Ia membungkuk memungutnya.

“Hng, apa?”

“Tadi kau bilang apa?”

“Ee, itu, kau mau kue lemon?”

“Boleh.”

Jiyoung membuka kotak itu dan isinya menarik perhatiannya. Isinya sudah berantakan. Tapi ada selembar kartu yang di tengah remah-remahan kue. Baris pertama sudah cukup untuk menarik perhatiannya. Dibacanya. Hanya tiga baris singkat.

Untuk Jiyoung,

Ini kue lemon rasa tanganku, kuharap kau menyukainya.

Chanyeol :)

Jiyoung mendengus geli dan menggumam, “Apa-apaan sih dia, pakai sembunyi dan menaruh ini di sini segala?” Jiyoung mencubit sebuah kue lemon yang masih utuh terkubur di remah-remah kue lainnya. Ia memasukkannya ke mulut.

Enak.

Entah kenapa matanya terasa panas. Chanyeol masih mengingat janjinya. Setelah sebulan ini. Ia pikir ia tidak akan datang lagi, tapi ini, buktinya dia datang dan membuatkannya kue itu. Tapi kenapa dia tidak di sini dan mendengarkan atau melihat reaksinya atas kue yang dia gembar-gemborkan waktu itu? Apa dia marah karena aku tiba-tiba hilang? Atau mungkin dia dendam dan sekarang ingin membalasku dengan menghilang juga? Jiyoung tertawa kecil karena pemikiran aneh-anehnya. Hatinya masih membuncah.

Jiyoung pun memutuskan, nanti dia akan memberondonginya pertanyaan karena sudah bertingkah begini, lalu… memberinya balasan atas kartu ucapan Chanyeol itu. Jiyoung akan menunggunya di peron ini. Tidak lupa juga untuk membawakannya masterpiece-nya usai lomba pastry nanti.

Besok aku akan membawakanmu kue kemenanganku, Chanyeol.


a/n: revised! ini untuk yeoyeo yang sudah memberi ide untuk saya tulis ^^

Advertisements

Have fun commenting.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s