Di Ladang Bunga Regolith

Kisah Ren dan Reika di masa dulu…

 

Di Ladang Bunga Regolith

.

Duduk di bangku yang berseberangan, Reika tersenyum kecil mendengar dengkuran orang yang tertidur sambil melipat tangan di meja di depannya. Kemudian ia meraih bunga dalam vas di dekatnya, menyentuh kelopaknya lembut, berusaha menghindari tangkai yang penuh duri besar nan tajam—jauh lebih besar daripada mawar. Bunga yang mengingatkannya pada orang di depannya ini di masa lampau.

Perang antara pasukan tentara Kerajaan dan Rebel tengah berkecamuk. Berbagai kisah yang menyertainya diungkap dalam media, memberi bumbu tiada guna atas kenyataan yang terlanjur pahit adanya. Namun tak ada yang tahu dengan kisah satu ini. Karena tak seorang pun ada menyaksikan. Karena tak seorang pun dari subjek cerita merasa perlu untuk disaksikan.

Kala itu ialah malam kesekian yang penuh ketegangan, sebab peluru demi peluru ditembakkan. Semua orang bersembunyi di rumah, di bawah tanah, di kota lain, di mana pun tempat bersembunyi itu ada. Sebagian besar yang lain telah mengungsi ke tempat lain yang terhindar dari amukan perang. Dan seseorang… sedang berjalan santai bersiul-siul di antara debum meriam, rentet peluru dan suara pasukan tentara Kerajaan yang gigih. Dialah Ren, keturunan manusia berdarah setengah naga. Lihatlah betapa ia tak mempedulikan tatapan ngeri orang-orang dari jendela bangunan melihatnya berjalan begitu santai.

Ren tak peduli. Hari ini ia berniat pergi ke Ladang Regolith di Utara—memenuhi janji pada adik perempuan kecilnya yang sedang sakit. Ren sudah bisa membayangkan bagaimana adiknya akan tersenyum lebar saat ia memenuhi permintaannya. Itu membuat dadanya terasa hangat. Namun perasaan itu sama sekali tidak sampai ke raut wajahnya yang tenang dan dingin.

Hingga ketenangan itu terusik oleh dentum bom sekitar dua ratus meter di depannya, dan seketika orang-orang berlari keluar dengan jejeritan ketakutan. Ren buru-buru mendekat. Didengarnya dari seorang nenek bahwa cucunya masih di dalam dan tidak keluar-keluar juga. Ren yang mendengar itu langsung menerobos masuk ke gedung yang lantai tiganya mulai terbakar. Sesampainya di dalam, ia bisa mencium aroma samar yang… wangi. Mengikuti insting, Ren berlari menyusuri lorong yang mulai berasap, hingga dirinya tiba di lantai tiga. Membuka pintu. Dan mendapati… seorang gadis yang tergeletak di dekat jendela, tempat serpihan kaca berserakan. Tampak dinding samping kamar itu berlubang.

Kamar ini terkena serangan bom lempar tadi! jerit Ren dalam hati.

Sembari merutuki Rebel, tentara atau siapa saja yang berani melakukan itu, Ren meringkuk dan membalikkan tubuh itu hanya untuk mendapati… wajah seorang wanita beserta pendarahan hebat di kepalanya, mengalir melewati alisnya, turun ke sudut mata, pipi hingga dagu. Uh, oh. Ini tidak bagus. Dilihatnya mata yang sayu itu masih membuka dan bergerak barang semili. Ren spontan berteriak, “Bertahanlah!” dalam panik.

Anehnya, gadis itu hanya tersenyum kecil sebelum kedua mata yang sayu itu menutup dengan lemah. Ren segera berlari secepat yang ia bisa keluar dari bangunan itu.

***

Reika membuka mata dan menatap apa yang seharusnya ia lihat saat menutup mata. Bau menenangkan obat menguar memasuki indera penciumannya. Sejenak ia hanya terdiam tak bergerak. Lalu membuka mata lagi, tak berubah. Apa ini lelucon?

Hingga sebuah suara yang masih terdengar kekanakan terdengar. “Kau baik-baik saja?”

Mulutnya hampir otomatis berkata bahwa dia baik-baik saja, namun sebuah kenyataan tak dapat dipungkiri membuat suaranya bergetar, “A-aku….” Belum sempat Reika menyelesaikan jawabannya, dokter datang dengan sebuah papan klip di tangan. Melihat Reika yang sudah siuman setelah dua hari lamanya tertidur, dokter itu tersenyum dan bertanya.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Baik,” jawab Reika.

Ren dapat melihat ada rengutan sesaat di kedua alis dokter itu saat ia melihat ke papan klip di tangannya. Tapi dia tidak berkata apa-apa, hanya memberitahukan resep obat yang akan diminum Reika setelah ini dan terapi untuk menyembuhkan traumanya. Setelah itu, dokter itu pun pergi.

Ren baru mengetahui apa yang terjadi dengan Reika saat orang tua Reika yang selamat dari insiden dua hari yang lalu itu memberitahunya. Akibat benturan di kepalanya, saraf mata Reika terganggu dan dia dinyatakan mengalami kebutaan permanen.

***

“Ren…,” suara yang familiar itu memanggil Ren dengan lembut.

Dua minggu telah berlalu semenjak insiden gedung apartemen Reika yang kini sudah rapuh dan hangus. Ren dan Reika kini berteman. Ren rajin menjenguknya di rumah sakit, terkadang juga sambil membawa adik perempuannya, Nina.

“Hm? Lupa huruf yang mana lagi?” tanya Ren sambil mencondongkan badan ke arah Reika yang tengah memegang sebuah buku.

“Yang ini, apa bunyinya?” Reika menaruh telunjuknya di bagian bawah halaman. Ren menyentuh bagian itu juga. Tanpa sengaja jemari mereka bersentuhan lembut. Mereka terdiam. Tapi tak seorang pun mau mengubah posisi. Ren bersyukur Reika tidak dapat melihatnya kini karena wajahnya yang memerah hingga ke ujung telinga sama sekali bukan hal yang keren untuk dilihat.

“Ini.. mmm, dibaca… happy end…,” kata Ren usai meraba huruf braille yang membuat Reika bingung tadi. Reika mengangguk-angguk saja.

***

Hari ini Ren mengajak Reika ke ladang Bunga Regolith, bunga serbuk bulan, favorit adiknya.

“Di sini wangi sekali,” kata Reika saat mereka memasuki ladang yang penuh bunga itu.

“M-hm. Biasanya aku memetik bunga ini untuk adikku saat dia sakit. Besoknya dia langsung sembuh. Dia benar-benar suka bunga ini sih,” jelas Ren. “Tapi bunga ini akan tampak lebih indah di malam hari.”

“Oh ya?”

“Iya! Lihat saja nanti!” Ren tersenyum misterius—walau tahu Reika tidak akan melihatnya.

Mereka memilih duduk di tengah-tengah ladang, mendengarkan kelopak-kelopak Regolith terbawa angin dengan eksotisnya. Angin sore berembus cukup kencang. Dingin. Tanpa sadar mereka merapatkan diri, bersandar di punggung satu sama lain supaya tak kedinginan.

Tak beberapa lama, Ren mengendus sesuatu yang ganjil. Angin sore tidak pernah sekencang ini di sini. Bunyi serangga juga tidak akan sesunyi ini. Ren pun berinisiatif mendongak, menatap langit barat di kejauhan, dan benar saja, sebuah pesawat berwarna oranye-hitam sedang terbang ke arahnya dan mengeluarkan sesuatu.

Bom.

Dengan sigap Ren mengajak Reika berdiri, lalu mereka berlari menghindar dari sasaran telak di tengah ladang ke hutan kecil di dekat situ, namun sebelum sampai ke sana, bom ternyata telah landas di tengah ladang. Ledakan itu membuat mereka berdua terpental dan nyaris menghantam bebatuan kalau saja Ren tidak berpegangan pada batang pohon tua yang berdiri kokoh di ladang. Tidak sedetikpun pegangan tangan itu terlepas.

Dalam hati Ren, sesuatu bergolak. Amarah. Hal yang akan memicu sesuatu yang belum pernah Reika ketahui tentang Ren. Amarah itu datang begitu saja, menggeledak dalam dada dan merangsek ingin keluar. Ren tidak tahan lagi. Dan dalam sekejap mata, kini pegangan tangan itu terlepas. Digantikan oleh pusaran angin putih yang berputar di sekeliling Ren seiring dengan tubuhnya yang membesar, membesar, dan terus membesar, hingga sepuluh kali lipat besar tubuh asli Ren.

Dragon shifter Ren, telah menampakkan diri.

“R-Ren.. Apa yang terjadi?” Reika menyentuh kulit Ren. Keras dan bersisik seperti… naga? Reika tidak bodoh. Reika pernah membaca tentang Dragon shifter. Tapi ia tak pernah menyangka Ren adalah salah satunya. Salah satu anggota keluarga shifter terkuat di Askavia! Jantung Reika bertalu-talu di dada mengetahui fakta yang satu ini.

..Menyerahlah wahai manusia dan shifter!!! Kami rebel tidak akan memberi ampun!!” Suara dari pesawat Rebel tersebut mengambang di udara.

Ren tidak menggubris omong kosong itu. Ia menembakkan bola api dari mulutnya. Panasnya bahkan dapat dirasakan Reika yang berada di dekat kaki Ren—kaki naga. Pesawat Rebel—sang pemberontak Kerajaan—lumayan canggih, kalau tidak bisa dibilang sangat canggih—Ren masih punya harga diri dan kebanggaan sebagai warga Kerajaan untuk tidak memuji kaum pemberontak. Ren melompat ke angkasa, menggoreskan cakarnya ke badan pesawat. Semua teknik yang ia punya, ia keluarkan.

***

Hingga matahari mulai terbenam pun Ren masih tegak berdiri, berusaha menghalau segala peluru dari mengenai Reika maupun ladang Regolith yang terbakar. Pilot pesawat Rebel itu pun tampaknya mulai kewalahan menghadapi serangan Ren. Yang berikutnya, Ren tidak siap untuk ini. Ren yang tengah melawan pesawat Rebel yang terus-terusan menembakkan molotov sia-sia di kulitnya yang keras, terheran melihat pesawat itu mengubah sasaran tembaknya.

Butuh dua detik bagi Ren untuk menyadari bahwa bom itu tertuju pada Reika, demi Tuhan!

Ren segera terbang ke arah Reika dan menyelimutinya dengan kedua sayap besarnya yang kelam.

Tak akan kubiarkan Reika tergores barang sedikit pun!

DHUAAR!!!

Kepulan asap berwarna hijau-kelabu menyelimuti mereka tanpa celah. Hal terakhir yang Ren katakan sebelum kesadarannya hilang adalah: “Reika… jangan bernapas….”

Lalu mereka pun terbang, terpelanting entah ke arah mana. Dengan pohon-pohon dan bebatuan yang beterbangan di sekitar mereka. BUK! Tiba-tiba Reika merasakan sakit yang tiada tara di kedua kakinya. Sakit, sangat sakit hingga air mata mulai menggenang di sudut matanya. Namun yang Reika lakukan hanya satu, yaitu menahan napasnya sebisa mungkin, selama mungkin.

***

Tiiiit…

Tiiiit…

Tiiiit…

Bunyi yang konstan dari elektrokardiograf adalah satu-satunya pengisi keheningan. Di samping tubuh pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu, Reika menangkupkan kepala di ranjang rumah sakit. Dalam hati tak henti-hentinya berdoa agar Ren baik-baik saja.

Ren kau akan baik-baik saja…

***

Tak terasa waktu berlalu. Kehidupan mulai berjalan seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya, karena begitulah hidup, berjalan apa adanya. Reika pergi ke rumah sakit tempat Ren dirawat setelah terkena ledakan bom yang ternyata adalah bom beracun.

Hari ini Ren sudah diizinkan keluar rumah sakit.

Reika tengah duduk saat mendengar langkah kaki Ren yang keluar dari kamar rawat, Reika refleks bangun dari duduknya begitu saja. Membuat Ren terkejut setengah mati. Reika oleng ke depan, sudah pasti jatuh kalau saja Ren tak sigap menahannya. Memeluknya. Meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang canggung dengan pipi memerah. Perlahan-lahan, Ren mengangkat tangannya, menepuk-nepuk lembut bahu Reika yang lebih tua darinya. Reika tidak berkata apa-apa, benaknya sudah tak sanggup mengeluarkan kata-kata karena terlalu banyak yang ingin disampaikan.

Di tengah-tengah pelukan yang canggung itu, Ren berkata dengan nada sedih, “Reika… kakimu….”

Reika menggeleng, “Sst… jangan katakan apa pun. Aku tidak apa-apa. Aku masih bisa bertemu denganmu itu cukup,” ujarnya cepat sembari tersenyum. Ren hanya bisa melihatnya dengan hati teriris, karena ia merasa tak sanggup melindunginya. Setelah dinyatakan buta, kini gadis malang itu harus menderita kelumpuhan juga! Kenapa Ren begitu tak berguna? Dia seorang Dragon shifter demi Askavia dan seluruh isinya! Napas Ren serasa tercekat di tenggorokan.

“Psst… berhenti. Berhenti menyalahkan dirimu. Kalau bukan karena kau, mungkin aku sudah tak di sini menyambutmu.”

“Maaf… maaf. Maafkan aku,” kata Ren lirih.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa….”

Setelah beberapa saat menenangkan diri, kini tampak Ren mendorong Reika yang duduk di kursi roda keluar rumah sakit, menuju ke ladang Regolith yang biasa Ren kunjungi.

“Kau mau apa di sini?” Ren bertanya dengan hati-hati.

“Aku ingin… tahu lebih jelas seperti apa dirimu sebagai Dragon shifter.”

“A-apa??” Wajah Ren memerah. “Tidak mau!”

“Ayolah…,” pinta Reika.

“Tidak mau..”

“Demi aku?”

“Uuh.. baiklah. Tapi jangan tertawa ya.” Ren pun bersiap-siap dan…

SYUUUSHH!!

Angin lembut menyapa kulit Reika. Reika pun berusaha menggapai tangan Ren yang kini terulur dengan instingnya. “Hmmm….???” Merasakan sebuah keganjilan, Reika pun bertanya.

“Kenapa tanganmu tetap sekecil ini, bukannya besar, kenapa?”

Ren menghela napas, “Itu akibat efek racun yang waktu itu tak sengaja kuhirup di sini. Sekarang aku tidak akan bisa menjadi naga yang gagah, besar dan kuat lagi.”

Reika tersenyum, “Kau salah. Biar bagaimanapun juga kau itu sangat kuat di mataku. Walau aku tak dapat melihatmu, aku tahu dengan pasti kekuatan dirimu, dari hatimu. Terima kasih telah menyelamatkanku.”

Ren tidak tahu harus membalas dengan apa kata-kata tulus Reika itu.

“Terima kasih juga…”

Keesokan harinya tersiar kabar bahwa pasukan Rebel yang jumlahnya masih belum terlalu banyak berhasil diringkus setelah ditangkapnya pesawat pengebom yang gagal meluncurkan bom karena kerusakan vital. Penggerebekan dilakukan di sebuah basecamp di tengah hutan di ujung Barat Laut Askavia. Pemimpin para pemberontak berhasil diringkus.

Ren dan Reika berpandangan sesaat, kemudian tersenyum lega mendengar berita itu di televisi.

Tanpa sadar, Reika telah tertidur lelap dengan mimpinya yang membawanya kembali ke masa lalu itu. Di hadapannya, Ren masih tertidur pulas menopang dagu.

Angin sepoi-sepoi dari jendela membelai lembut rambut mereka yang telah terbang ke alam mimpi masing-masing siang itu.

.

.

.

Tamat.

.

.

.

Author’s note: cerita ini ditulis untuk Project Illustory, sebuah buku, yang dikerjakan oleh tujuh orang termasuk Amu. Harusnya ini jadi cerita yang manis sih, harusnya…

Advertisements

Have fun commenting.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s